Saya pikir inilah saatnya tubuh ini merasakan dinginnya kabut, merasakan semilirnya angin membelai kuduk, mengendus harumnya cemara-cemara gunung, memandang tepi horizon langit yg dipenuhi arak-arakan awan cumulus yang biasanya hanya bisa kita lihat dari bawah serta menikmati ranumnya edelweis diatas sana. Sungguh kebesaran dan nikmat yang tidak mungkin saya dapatkan jika tidak menjejakkan kaki di atas sana!
Setelah hampir delapan tahun lamanya tidak menapakkan kaki di gunung ini, tiba-tiba terbesit keinginan untuk menjamahnya lagi. gunung yang dua kali saya daki, namun belum pernah sekalipun saya menginjakkan kaki di puncak tertingginya, karena alasan cuaca.
Pendakian pertama Merbabu pertengahan tahun 2003 benar2 pendaki pemula waktu itu. dan jangan sekali2 ditiru, kmi hanya bermodal peralatan seadanya. jas hujan dan senter yang merupakan peralatan wajib, personil kami tidak semua membawanya. ditambah dengan pendakian yang kami lakukan adalah (seringnya) malam hari. kondisi hujan gelap licin dengan penerangan minim, bisa temen-temen bayangkan bagaimana kehebatan kami. (baca: kesombongan) alhasil kami tertatih-tatih di pendakian. banyak yang terpeleset. bahkan salah satu dari kaki personil kmi keseleo. namun hal itu masih bisa dia tahan. benar2 pendakian yang berat.
Baru pertama kali ini kami merasakan ada yang aneh dari tubuh kami. keluar asap dari masing2 tubuh kami, lebih tepatnya Uap. mungkin karena perbedaan suhu yang terjadi. suhu lapangan yang sangat dingin berbanding terbalik suhu badan kami yang gerah karena sangat semangat untuk mendaki. maklumlah, semangat kami terpacu karena memang kami pemula, sehingga yang ada di otak kami hanyalah kata "Puncak". sebenarnya ini sangat tidak baik, pendakian adalah proses bukan hasil akhir, yang terpenting dalam pendakian itu bukan puncak, yang lebih penting adalah perjalananya, proses-nya klo kata salah satu dosen saya. puncak adalah bonus yang layak kita terima ketika telah melalui proses ini.
kami terhenti di Pos III. Pos Watu Gubug. salah satu personil kami tumbang, pingsan. Kami terpaksa berhenti di Pos ini
disini terdapat area yang datar yang memungkinkan kami mendirikan tenda, yang bahkan kami pun tidak membawanya. alhasil kami cuman istirahat beralaskan matras dan berselimut jas hujan. salah satu point penting di pos ini adalah, Pos ini terkenal keramat, terdapat batu besar seukuran mobil, namun ini lebih tinggi. terdapat lubang di batu ini yang bisa dimasuki kurang lebih 3 orang. terdapat sesajen berupa kembang-kembang di ujung lubang itu. cukup membuat merinding bagi pendaki pemula seperti saya. disitu juga dilarang buang air sembarangan.
benar-benar pendakian dan tempat istirahat yang berat, namun apa yang kami peroleh pada pagi harinya adalah benar-benar anugrah yang luar biasa. tepat sebelum matahari terbit, saya baru sadar kalo saya berdiri di atas lautan awan. yang saya maksud benar-benar lautan awan. dan ketika matahari muncul dari bawah awan itu, damn! its so amazing!!
berikut gambar yang diambil dengan kamera film pocket seadanya waktu itu




saya yang pake kaos hitam, bertuliskan komando...waktu itu saya masih kurusan.haha.... :D